Archive Page 2

14
Jun
10

Sebuah Pernyataan

Seorang teman wanita di kantor bilang ke teman lainnya, bahwa gue pendiam.. Sontak, pernyataannya itu menimbulkan tanda tanya, dan segera teman dan rekan lainnya mengolok si teman kantor di depan gue. Gue pun hanya bisa tersenyum melihat wajahnya yang sedikit memerah dan tak berani menatap gue.

Ada apa ya??

12
Jun
10

Sebuah Berita

Rumah blog yang diabaikan tuannya kini kembali terawat. Seminggu tak menulis blog bukan dikarenakan malas, tapi lupa akan tuntutan menulis dan terlalu asik menjalani pekerjaan, menjalin pertemanan, dan asik menonton sepak bola?

Alasan?

Mungkin alasan yang paling tepat adalah memang enggan menulis. Sebuah penyakit lumrah yang selalu dialami semua penulis atau yang merasa suka menulis di seluruh jagad raya. Sekarang puna penyakit itu belum pergi, hanya saja hasrat ingin memberi kabar terus mencuat. Dan yang gue buat ini bukan sebuah cerita, tapi hanya sebuah berita.

Berita tentang gue yang malas menulis..

04
Jun
10

Wish Me Work

Weekend pun tiba. Akankah gue tetap nganggur dan hanya bermain game di kantor nanti? Mari kita simak bersama-sama. Yang jelas, dari rumah gue sudah membawa game baru dan beberapa lagu baru yang akan menemani jika gue bengong nanti. Gue membawa lagu penuh semangat dan eufira. Lagu piala dunia.

Semoga menyenangnkan jika diputar di sana..

Wish me work ok..

03
Jun
10

Gaji Buta

Entah gue harus merespon apa terhadap apa yang gue lakukan di kantor. Senang kah atau malah merasa bersalah. Sudah hampir seminggu lebih, kerja gue di kantor hanya berpikir bagaimana mengalahkan lawan di game. Yup. dari pagi hingga larut gue hanya bermain game dengan orang yang terus silih berganti. Selebihnya? gue hanya tidur di bilik kecil milik pembantu kantor.

Alesan gue merasa senang? Mungkin tidak datangnya brief membuat gue menganggur di kantor. Mungkin jika tak ada game, kerjaan gue hanya browsing chatting, and sleeping maybe.

Alasan gue merasa bersalah? Mungkin di kantor, hanya gue yang menganggur. Rekan-rekan lainnya tetap bekerja dan sibuk. Mungkin hanya gue yang dari pagi hingga malam bisa tidur seharian di kantor jika gue mau. Saat menulis postingan ini pun rekan-rekan gue di kantor masih berada di kantor menyelesaikan pekerjaannya. Mungkin sampai pagi. Dan gue? Menulis blog dan tidur nyenyak.

Siapa suruh briefnya tidak datang. Jika pun daang, siapa suruh bos malah menyuruh orang lain mengerjakannya dan bukan gue. Dan sang bos memanggil gue hanya untuk menjadi partner bermain gamenya. Yup.. Partner bermain game..

Haruskah gue merasa bersalah?…

01
Jun
10

Absurditas Hari Senin

Liburan lalu gue baru saja mengalami hari yang fantastis. Berpetualang mengarungi lautan dan kepulauan, dan mendapatkan tambahan teman baru.Itu adalah hari terbaik dalam tahun ini.

Keadaan berbalik drastis.. Gue mengawali hari senin dengan bermain game, browsing, tidur, chatting dan hal-hal gak berguna lainnya. Gak adanya job dari klien hari itu, benar-benar membuat gue absurd. Otak gue butuh bekerja dan berpikir kreatif.

Waktu masih menunjukan pukul tiga, dan gue masih berpuasa. Gue pergi ke sebuah masjid lalu tidur di sana hingga magrib tiba. Setelah berbuka, gue memutuskan untuk pulang segera. Gue berangkat menuju teater terdekat, membeli sebuah tiket film, film animasi 3D yang ceritanya sangat simple dan sederhana.

Ruang teater hanya diisi beberapa orang, semuanya berada di tribun atas. Gue duduk di deretan tengah sendirian. Menertawakan aksi manusia hijau yang ingin merebut kembali istrinya (yang juga ogre). Penonton pun sesekali tertawa. Sedikitnya penonton membaut film tampak datar dan tidak lucu untuk ditonton. GUe justru tertawa paling keras, tertawa miris. MEngingat baru kemarin gue melewati hari yang fantastis, sekarang gue malah menjadi autis.

Setelah cerita film berakhir, penonton berduyun-duyun meninggalkan teater.  Meninggalkan gue sendiri yang terus duduk hingga film benar-benar habis.Para cleaning servis menunggu gue dengan sabar..

30
May
10

Skenario baru Tuhan

I (try) enjoying my life, And God knew that, and gave me joyness.

Sebuah pengalaman hidup baru gue rasakan kembali, mungkin inilah skenario Tuhan dalam perfilman tentang hidup gue. Dia terlebih dahulu memasukan unsur cerita datar dan cenderung membosankan. Bagaimana tidak, di dalam film ini, tokoh yang tampak hadir hanya gue seorang. Tak ada pemeran pembantu ataupun antagonis. Yang ada hanyalah properti yang membantu gue berikterasi dalam setiap akting di film gue ini.

Lalu perlahan, unsur-unsur lain coba ditampilkan Tuhan, termasuk berbagai macam karakter manusia di dalam kehidupan gue. Dan latar tempat gue berakting bukan lagi sebuah kamar, namun sudah merambah ke sebuah ruang bernama kantoran. Di sana gue bertemu dengan beragai macam karakter yang menopang gue dalam berakting.

Dampak positifpun terasa di dalam diri, dari mulai berat badan hingga, muncul beberapa undangan pertemanan. Tuhan pun tahu jika dua latar tidak cukup menarik untuk dijadikan sebuah film kehidupan. Dan dia pun menambah cerita seru di dalam hidup gue. Sebuah pantai, lautan, hingga banyak pulau ditampilkan di dalam kehidupan gue kemarin. Untuk pertama kalinya gue memegang karang di dalam lautan, merengkuh pasiran untuk dihamparkan, melihat langsung indahnya pulau-pulau yang bertebaran. Tak lupa, dia menambahkan beberapa tokoh untuk menemani gue mengisi ruang latar baru itu.

Tuhan pun menghadirkan teman baru di dalam hidup gue. Thanks God for the new scenario.

17
May
10

Dunia yang sempit Atau Pergaulan Gue yang Luas?

Gue kira dengan memilih bekerja kantoran, akan mengalami pembaruan dalam semua hal. Termasuk teman. Gue mengira akan banyak bertemu dengan orang-orang yang sama sekali asing bagi gue, hingga gue akan berusaha saling kenal. Saat pertama kali bertatapan dengan mereka:

Loh? kok ada elo?

Eh ketemu lagi..

Oh, ternyata lo temennya si..

Oh, anak XX juga toh..

Ternyata hanya satu dua orang yang asing bagi gue. Selebihnya.. ya seperti dialog di atas. Mungkin ada sisi baiknya. gue tak perlu capek-capek emngetahui tentang mereka. Hanya perlu sedikit mengenal mereka. KArena gue tau mereka dan sudah mengenal background masing-masing.

Dan sisi buruknya. Pergaulan gue statis, gue seperti hanya dibawa berputar-putar di lingkaran itu-itu saja. Oh mungkin masih ada peluang. Masih ada klien. Gue yakin bahwa mereka adalah orang-orang asing bagi gue. Lingkup kerja mereka saja berbeda. pasti sebagian besar mempunya latar belakang pendidikan yang berbeda pula dengan gue.

Seorang teman yang sudah dari meetingnya berbicara ke gue. Dia memberi tahu bahwa kliennya telah memperkerjakan seorang anak muda. Teman gue pun bercerita sedikit tentang anak muda itu. Gue meresponnya dengan sepenggal kalimat,

” Hah? Itu mah temen gue..

Gue pikir gue gak punya temen, tapi kenapa banyak orang yang gue kenal?

16
May
10

Tulisan 5 Menit

Apa yang bisa gue tulis dalam waktu 5 menit?  Bisakah waktu yang hanya sekelebat itu membuahkan tulisan hebat atau setidaknya bermanfaat? Well, gue belum yakin. Bahkan sekarang saja gue masih berpikir, topik apa yang harus gue sugukan.

Memang menargetkan sesuatu tanpa ada konsep akan begini hasilnya. Hanya akan melahirkan bandwith berbentuk huruf-huruf. Mungkin jika tulisan ini ditulisan dengan pena dan kertas, malah menjadi sampah kata. Dan gue akan dikutuk keras oleh Green Peace.

Tampaknya gue harus sadar diri. Bahwa dalam 5 menit, gue hanya bisa melahirkan ini. Sebuah tulisan tanpa makna dan hanya bermanfaar buat gue pribadi. Hanya bermanfaat untuk kelenturan jari belaka.

15
May
10

Sebuah Cerita di dalam Kemacetan Ibukota

Ini utuk kedua kalinya gue berjalan pulang dengan kaki melenggang. tanpa sebuah kendaraan pribadi.Kaki ang belum sembuh dari keram dipaksa susah, hanyak untuk sekedar merasakan tanah. Bersyukur, karena saat itu macet melanda. Tingkat kemacetan yang membabi buta, hanya dikeranakan sedikit air tergenang di jalan.

Agak bangga rasanya, melihat banyak orang terduduk gerah dan tersiksa menunggu kendaraana berjalan, sementara gue dengan gagah, walau kaki serasa mau patah, tetap berjalan mantap tanpa henti. Sampailah sudah dipelabuhan pertama. Di sebuah perempatan lamu merah. Tempat berpijak banyak angkutan ibukota. Dan gue menaiki salah satunya.

Gue duduk tepat di sebelah seorang wanita. Dia tampak gerah, tampak sedikit putus asa. Mungkin itu sebabnya dia bergaya rambut bak seorang pengibar bendera. Logiskah jika dia gue sapa? atau sekedar bertanya tentang keadaanya?

Stress amat mbak? Biasa aja

Capek ya mbak? Uda tau nanya.

Macetnya parah ya? Lihat aja sendiri.

Pulang kerja mbak?  Emang kenapa?

Perlu kah gue bertanya lagi kalau semua pertanyaan klise itu dengan mudah bisa gue jawab sendiri?

Ok, akhirnya gue memantapkan diri untuk sekedar menyapa. Saat menengok ke arahnya, dia juga menatap. Sebuah tatapan yang harus direspon segera. Sebuah tatapan yang menandakan dia ingin gue segera bergesar agar memudahkannya keluar dari kursi untuk segera turun dari bis agar dia bisa cepat pulang ke rumahnya. Bertemu orang-orang terkasihnya, saling bergurau, bercerita, atau mungkin saling bersenggama.

Jika begitu, masih perlukah orang seperti gue dan orang-orang asing di ibukota menghampirinya hanya untuk sekedar menyapa?

13
May
10

Membuat Sejarah Dengan Permainan Mewah

Berangkat penuh semangat, bahkan berniat hampir meminum obat kuat. Tapi batal dilakukan mengingat itu sama saja mengubur harga diri di sumur tetangga. Gue harus kuat. Walau saat bermain game di kantor dianggap kacangan, nanti malam gue harus menjadi primadona lapangan.

Bola adalah sara gue menjadi bintang malam itu. Pamor gue bisa melambung tinggi, tak kalah tinggi dengan bola yang gue tendang. Rasa girang yang sudah meradang membuat tak segan menggunakan sepatu futsal langsung menuju tempat kerja. Seperti halnya bocah, saat sang bos berkata,” Anak-anak, ayo maen futsal”. Gue berteriak,” Hore-hore, Ayo cepetan main dong!”.

Tengah malam kami bermain. Setelah dua buah agency multinational bertanding. Bertanding mempertaruhkan nama baik perusahaannya masing-masing. Tak heran saat pertandingan berjalan, tak terbesit gelak tawa di wajah mereka. Raut wajah yang terpasang sama seperti pada waktu mereka bertarung merebut hati kliennya. Tak jarang timbul suara-susara menghentak hingga berteriak membentak rekan sendiri.

Pertandingan begitu panas, hingga kami yang baru datang hampir ikut terbawa suasana. Tegang.. Gue ragu apakah mereka benar-benar menikmati permainan mereka? Apakah diantara mereka ada yang bermain hanya karena perintah atasan mereka. hanya masing-masing dari mereka yang tahu.

Waktu kami pun tiba. Kami menggunakan atribut seadannya. Hingga tak sedikit yang bertelanjang kaki dan dada. Kami bermain. Kami tertawa. Saling menertawakan tingkah kami masing-masing di lapangan. Kami juga berteriak. Tak kalah heboh dengan tim sebelumnya.

” HAHAHAHA, Bodoh!!  Atas perintah saya, kalian harus mengalah,” bos berkata.

Dan kami pun tertawa.

Rasa sakit dan penat lenyap seketika. Bahkan saat otot betis gue tertarik. Hanya terasa sakit sementara. Lalu gue bermain segera. Berlari ke sini ke sana, hanya untuk mengejar bola. mengejar sebuah peluang. Dimana saat gue mendapatkannya dan menggiring peluang itu. Gue berharap bisa mencetak goal.

Dua gol tercetak. Segelintir orang mulai berbicara. Berbicara tentang seorang pria yang rela mengorbankan salah satu kakinya demi mencetak dua gol, dan hanya untuk menikmati permainan yang belum tentu bisa dimainkannya kembali. Ini adalah permainan langka, yang hanya bisa dimainkan segelintir orang di ibukota, yang hidupnya dilewati dengan keteraturan waktu kerja.




 

June 2012
M T W T F S S
« Mar    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Blog Stats

  • 1,009 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.