Berangkat penuh semangat, bahkan berniat hampir meminum obat kuat. Tapi batal dilakukan mengingat itu sama saja mengubur harga diri di sumur tetangga. Gue harus kuat. Walau saat bermain game di kantor dianggap kacangan, nanti malam gue harus menjadi primadona lapangan.
Bola adalah sara gue menjadi bintang malam itu. Pamor gue bisa melambung tinggi, tak kalah tinggi dengan bola yang gue tendang. Rasa girang yang sudah meradang membuat tak segan menggunakan sepatu futsal langsung menuju tempat kerja. Seperti halnya bocah, saat sang bos berkata,” Anak-anak, ayo maen futsal”. Gue berteriak,” Hore-hore, Ayo cepetan main dong!”.
Tengah malam kami bermain. Setelah dua buah agency multinational bertanding. Bertanding mempertaruhkan nama baik perusahaannya masing-masing. Tak heran saat pertandingan berjalan, tak terbesit gelak tawa di wajah mereka. Raut wajah yang terpasang sama seperti pada waktu mereka bertarung merebut hati kliennya. Tak jarang timbul suara-susara menghentak hingga berteriak membentak rekan sendiri.
Pertandingan begitu panas, hingga kami yang baru datang hampir ikut terbawa suasana. Tegang.. Gue ragu apakah mereka benar-benar menikmati permainan mereka? Apakah diantara mereka ada yang bermain hanya karena perintah atasan mereka. hanya masing-masing dari mereka yang tahu.
Waktu kami pun tiba. Kami menggunakan atribut seadannya. Hingga tak sedikit yang bertelanjang kaki dan dada. Kami bermain. Kami tertawa. Saling menertawakan tingkah kami masing-masing di lapangan. Kami juga berteriak. Tak kalah heboh dengan tim sebelumnya.
” HAHAHAHA, Bodoh!! Atas perintah saya, kalian harus mengalah,” bos berkata.
Dan kami pun tertawa.
Rasa sakit dan penat lenyap seketika. Bahkan saat otot betis gue tertarik. Hanya terasa sakit sementara. Lalu gue bermain segera. Berlari ke sini ke sana, hanya untuk mengejar bola. mengejar sebuah peluang. Dimana saat gue mendapatkannya dan menggiring peluang itu. Gue berharap bisa mencetak goal.
Dua gol tercetak. Segelintir orang mulai berbicara. Berbicara tentang seorang pria yang rela mengorbankan salah satu kakinya demi mencetak dua gol, dan hanya untuk menikmati permainan yang belum tentu bisa dimainkannya kembali. Ini adalah permainan langka, yang hanya bisa dimainkan segelintir orang di ibukota, yang hidupnya dilewati dengan keteraturan waktu kerja.