09
Mar
11

Kejadian

Tepat setahun saya sudah bekerja. Semua hal mengalami kenaikan. Taraf hidup saya naik, tekanan darah naik, hingga berat badan yang naik dengan mantapnya. Semua hal yang naik-naik ini mau tak mau harus saya syukuri.

Setidaknya, jalan hidup saya tidak flat dan lurus seperti garis tangan saya ini. Dalam setahun ini pun saya telah mengalami banyak hal, banyak kejadian, dan banyak banyak lainnya.

Siapa sangka anak muda yang jarang keluar rumah dan bergaul ini bisa menghirup dinginnya udara Macau, dan duduk tenang di taman Victoria Park, Hongkong.

Siapa sangka.. nama saya tertulis di dalam daftar tim peraih penghargaan di ajang lomba iklan Pinasthika yang cukup bergengsi itu. Ini adalah mimpi yang menerobos masuk ke dalam realita hidup saya.

Alat komunikasi Saya pun naik derajat. Dari ponsel sabun ke ponsel layar sentuh. Bahkan sangat canggih. Llihat, alangkah noraknya Saya sampai harus membeberkan sebuah ponsel.

Saya pun sampai merasa malas menulis di ranah virtual in karena Saya begitu asik dengan hal-hal menarik di kehidupan sehari-hari Saya. Mungkin jika sampai saat ini saya masih menjadi tenaga kerja lepas, banyak di rumah hingga mungkin sudah ada puluhan judul tulisan baru di blog ini.

Dalam kurun waktu setahun ini, Saya juga banyak belajar untuk berteman, berkomunikasi, dan belajar menghargai pentingnya sebuah hubungan. Apapun bentuknya.

Memang tidak semua hal yang Saya alami bermuatan positif. Tapi menulis hal negatif di tulisan akan membuat mood untuk menulis hilang. Dan Saya tidak akan membuat hal itu terjadi.

03
Oct
10

Teater Taman

Semalam, Jakarta ku telusuri, dengan kayuhan roda kendaraan yang tak berbunyi. Ditemani alunan blues, Jazz, dan keroncong pilihan. Semuanya membaur di sebuah taman tengah kota. Bagiku, taman tak hanya sebuah tempat duduk-duduk atau tempat membaca buku. Taman adalah tempat melihat sebuah opera di sebuah teater. Orang-orang di sana memainkan perannya secara natural dengan  gayanya masing-masing.

Seorang wanita sendiran duduk di lingkaran kolam taman, dihisapnya sebatang rokok dengan mata menatap tajam ke awan. Sesekali ia menunduk ke bawah. Entah apa yang dilihatnya, toh di bawah hanya ada aspal dam sebuah daun kering yang bersemayam di atasnya. Mungkin ia sedang tak menggunakan matanya untuk melihat, ia sedang mengurai semua probelama hidup dan meratapinya hingga tertunduk ke bawah. Ah, sok taunya aku.. Mungkin dia sendang mencari sesuatu di bawah. Uang recehan yang terjatuh, dan saat sedang melihat ke atas, ia ingin meilhat cuaca agar saat pulang ia tak kehujanan..

“Biarin, pergi sana!”

Pandanganku langsug tertuju ke arah suara itu, sumber suaranya tak jauh dari wanita yang kulihat sendiri tadi. Ternyata itu suara seorang perempuan yang sedang memaki seorang lelaki di depannya. Lelaki itu kemudian menarik tangan si wanita secara paksa dan tangan kirinya memberi isyarat peringatan dengan telunjuk. Beberapa pasang mata terlihat curi-curi pandang ke arah kedua orang itu itu. Mereka seolah tak peduli, tapi ingin tahu tentang kelanjutan kisah yang penuh emosi itu. Si wanita tadi bersikukuh untuk tetap duduk dan mengindahkan ajakan si lelaki, entah siapa lelaki itu. Mungkin kakaknya yang marah karena adiknya itu tak kunjung pulang ke rumah. Mungkin juga itu suaminya sedang cekcok dengan sang istri hingga sang istri enggan diajak pulang. Atau mungkin dia seorang germo yang mencoba membujuk pelacurnya untuk pulang ke penampungan. Atau malah lelaki itu hanya seorang pria tak dikenal yang mencoba mengajak si wanita berkenalan secara paksa. Ah, apapun itu, kedua orang itu telah melakoni perannya dengan baik. Konfilk mereka turut mengisi ruang kososng di taman.

Bagiku, taman tak sekedar paru-paru kota, tapi sebuah tempat penyegaran hati para penduduknya. Tempat berbagi kasih, tempat mengais rezeki, hingga tempat menyepi. Semua kegiatan itu hanya bermuara pada satu harapan, harapan agar sang hati senang.. Mall dan diskotik memang menyenangkan bagi sebagian orang, tapi tak cukup menenangkan buatku. Bioskop memang menghibur, dan akting para pemeran juga rapih dan bagus. Tapi aku tak bisa menyentuh para pemerannya, aku tak bisa menyentuh pundak wanita yang menangis di layar itu untuk sekedar meringankan kesedihannya.

Di taman, aku bisa melihat berbagai aksi. Walau tak apik dan rapih, tapi cukup menawan dan spontan. Aku pun bisa leluasa ikut terlibat di dalam peran.

Dengan menengguk sebotol air mineral (Karena aku tak minum alcohol dan merokok, air mineral pun kujadikan sasaran), aku pun terbius oleh gerak lincah para pemeran. Melihat berpasang-pasang kekasih yang saling tukar kemesraan,  tukang jualan yang berlalu lalang, anak kecil yang berlari riang dengan sepatu  berbunyi, hingga alunan ringan dari gesekan biola dan tiupan saxophone  yang dimainkan dengan senyum penuh kenikmatan. Dari luar, tak ada yang spesial. Tapi bagiku, semua yang kulihat di taman itu lebih berharga dan mempunyai kesan tersendiri dibanding menonton opra di televisi. Mereka hidup, mereka nyata, dan mereka ada tepat di depanku. Mereka ada di taman itu, mereka berteater di sebuah taman.

12
Aug
10

Mati Ide, Datanglah Curhat

Ramadhan telah tiba, mari mulai kembali rakaian tulisan di rumah karya ini. Sebernarnya banyak sekali hal yang terjadi pada diri saya semenjak saya bekerja selama 6 bulan ini. Memang seharusnya saya menceritakan setiap harinya kejadian-kejadian yang saya alami, karena memang blog ini tercipta untuk ini.

Blog ini lahir saat saya merasa kesepian dan hanya bergumul mesra dengan perankat elektronik dan perintilannya. Dan sekarang saya berbeda, hidup saya penuh dengan sesuatu yang berbeda setiap harinya. Persamaanya cuma satu, saya masih tetap kesepian. Tapi kejadian demi kejadian yang saya alami kontan menutup daya khayal saya. Dunia saya luas, tapi fantasi saya menyempit hingga menyebabkan sesak untuk berpikir.

Sekarang saya mencoba memaksa, bahkan menyiksa otak saya untuk berpikir soal kata. Mau tidak mau ribuan kata harus terangkai kembali setiap harinya. Bagus atau buruk, positif atau negatif, membosankan atau inspiratif. Yang jelas harus tertuang penuh di rumah kata ini.

Semoga Ramadhan ini membuat koki di otak saya haus dan lapar untuk meramu jutaan kata lezat untuk ditulisakan..

Selamat berpuasa dan berpikir..

08
Jul
10

Gelisah Berharap Asa

Aku merasa kurang optimal dalam bekerja, aku tak yakin aku akan menetap lebih lama di kantor ini. Semoga kreatifitasku bisa berontak dan mendobrak semua pikiran-pikiran yang terkotak-kotak si klien dan si bos.

Semua semua ini hanya perasaan ku saja. Semoga aku masih berguna di kantor itu. Kalaupun tidak, aku siap menjadi pemain biola…

07
Jul
10

Kuda Alumunium

Hadirnya sang pacar beroda dua mengalihkan duniaku, 3 ahri berturut-turut aku membawanya serta pergi ke kantor. Aku letih bersamanya, namun hati ini puas rasanya.Ingin rasanya ku bawa dia serta kemanapun aku pergi, bahkan ke ujung dunia sekali pun.

Rasa sayangku padanya cukup berasalasan. Aku harus berjuang keras untuk memilikinya, dua bulan gajiku pun menjadi tumbalnya. Aku berharap dia tak mengecewakanku. Karena jika itu terjadi, tak segan aku memperlakukannya seperti pelacur, menjajakannya kepada para kolektor sepeda kumbang dengan murah.

Wahai pacar, ku gowes dirimu dengan semangat, dan ku harap kau terus melaju cepat. Mari kita belah Jakarta. Kita buat orang-orang iri dengan keintiman kita. Kita buat mereka meninggalkan kuda besinya dan beralih ke kuda alumunium seperti jenismu.

06
Jul
10

on screen keyboard

Batere keyboard saya lemah tak berdaya, sebuah on screen keyboard pun menjadi primadoa malam ini. kaeena saya menggunakannya untuk menulis sebuah catatan. Catatan bertema sang primadona itu sendiri.

04
Jul
10

Akhir Pekan Penuh Kejutan

Aku sangat berterima kasih pada Tuhan, KArena dia selalu memberi skenario-skenario yang selalu mengejutkan di dalam perfilman hidupku. Termasuk skenario yang Dia tulis dalam dua hari ini. Aku sebenernya tak punya rencana apa-apa untuk mengisi akhir pekan ini. Terlebih di hari jumatnya aku telah melewati durasi kerja yang di luar batas. Aku bekerja hingga pagi hari.

Aku pulang pukul 7 pagi, dan langsung ku tertidur. Tiga jam aku tertidur, dan saat terbangun. Ntah kenapa otak ku me rewind sebuah perkataan teman ” Hari sabtu & Minggu ada ada even musik dan bazar pakaian keren loh”. Spontan aku pun bergegas mandi dan langsung berangkat ke tempat itu, Di parkir timur Gelora Bung Karno.

Setelah sampai di tempat itu aku sedikit merasa berbeda. Karena aku berada di tengah-tengah kumpulan anak-anak muda gaul Jakarta, gaul dari segi atribut dan mungkin gaya hidupnya. Aku pun seumuran dengan mereka. Tapi seikitpun aku tak pernah merasa semuda mereka. Apakah diriku kolot??

Di sana aku menikmati musik, “Musik anak muda”. mendengar gaya mereka berbicara, melihat aksi mereka dalam berbagai gaya. Jujur aku tak ingin seperti mereka, tapi aku ingin sekali mengenal mereka lebih dalam.

Aku sudah lelah, hari mulai gelap oleh gelundungan awan pengantar hujan. Aku bergegas pulang dengan selimut jas hujan.

Aku tak pernah menyangka hari sabtu kuhabiskan bersama muda-mudi gaul Jakarta. Padahal yang ku bayangkan hanya bersandar di atas per empuk sambil menonton film-film fiktif yang menjual gaya, action komedi dan seks. Tapi aku diberi Tuhan sebuah tontonan nyata. Tontonya nyata perilaku-perilaku orang yang seumuran dengan ku, dengan gaya dan tingkah pola mereka. Di tengah kota Jakarta.

Saat terbangun di hari minggu, aku pun masih berpikir akan tetap berada di tempat aku terbangun dan hanya melihat tontonan-tontonan fiktif di layar 17 inchi. Dan skenario Tuhan untukku pun berjalan dengan ditandai sebuah pesan singkat dari seorang penjual sepeda, yang menawarkan sepedanya dengan harga murah padaku. Hanya butuh waktu bebrapa detik untuk membuatku mandi dan langsung bergegas ke tempat oeang itu dengan angkutan umum. Lama sekali aku tak pernah naik angkutan umum. 3 jam jarak yang ku tempuh dengan bergonta ganti angkutan.

Aku pun sampai di rumah orang yang tak ku kenal itu. kita berbincang. Sepdah.. hanya itu obrolan kita. Terkadang sebuah topik pun cukup membuat dua orang serasa bagai sahabat..

Deal..

Aku pun pulang dengan menggowes sepeda baru ku. Sepeda yang tak pernah ku pikir akan mendapatkannya, dan sekarang aku menggowes pedalnya selama 3 jam dengan jarak belasan kilo. Dan sekarang sepeda itu tepat berada di samping ku. ku taruh di samping tempat tidur agar bisa ku pandangi dan ku renungkan sebelum tidur

“Mengapa di kamar ku ada sepeda ini?”

“Kenapa aku membelinya?”

Tuhan, teruslah menulis skenario yang penuh twist di kehidupan yang ku jalani ini. .

03
Jul
10

Cerita Romantis Tergeser Skenario Dramatis Olahraga

Mungkin cerita-cerita personal akan dikesampingkan dahulu. Mari kita fokus ke piala dunia. Sebuah turnamen tingkat dunia kali in melahirkan banyak cerita dramatis yang diskemakan secara memesona.

Jepang yang bermain gemilang harus segera pulang akibat sebuah tendangan penalti yang membentur tiang gawang.

Ghana, bermain dengan sangat memesona mengakhiri permainan dengan derai air mata, karena setelah hampir menang, kemudian malah kalah adu penalti, dengan tim yang penuh keberuntungan.

Argentina, yang selalu dielu-elukan bakal bertanggo ria dilapangan. Naas, mereka malah dilindas-lindas oleh tim panser Jerman.

Spanyol?

*Semoga skenario penuh kejutan di piala dunia selalu tercipta oleh Si penulisnya. (Tuhan)

02
Jul
10

Transisi

Ini adalah masa-masa dimana sebuah hubungan bisa terganggu kestabilitasannya. Terganggu oleh beragam aktifitas.Dan kami bertiga pun berada di siklus ini. Semua merasa sama-sama jauh, chemistry serasa hilang daya reaksinya. Aku berada di moment-moment untuk malas berteman, bertegur sapa, dan berkumpul. Semua terasa meletihkan untuk dilakukan. BUkan hanya diriku, seorang sahabatku pun begitu.

Mungkin kesendirian adalah sahabat terdekat kami sekarang. Dan kami sedang merasa nyaman dengan sahabat baru kami itu.

Mungkin ini adalah sebuah masa transisi. Transisi kearah sebuah hubungan yang menyegarkan

01
Jul
10

Salam Kenal, Beranda.

Hai WordPress, masih ingat saya? Jika lupa, izinkan seya berkenalan lagi lewat tulisan-tulisan saya di berandamu ini. Maaf, jari saya berhenti merangkai kata selama 15 hari. Saya pun khawatir kau akan lupa, dan saya takut kau memblokade imajinasi saya untuk menulis di berandamu.

Semoga tidak.

Aneh memang, saat dulu tak ada hal yang patut diceritakan, dengan rajinnya saya tetap bercerita setiap hari. Dan sekarang, saya mempunyai pengalaman-pengalaman baru setiap harinya. Dan saya tak sanggup menceritakannya, walau separagraf saja.

Ini adalah awal keberanian saya untuk mulai bercerita lagi. Semoga beranda ini mau menampung tulisan saya. Tulisan egois dari seorang narsistik.




 

March 2012
M T W T F S S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Blog Stats

  • 716 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.