Semalam, Jakarta ku telusuri, dengan kayuhan roda kendaraan yang tak berbunyi. Ditemani alunan blues, Jazz, dan keroncong pilihan. Semuanya membaur di sebuah taman tengah kota. Bagiku, taman tak hanya sebuah tempat duduk-duduk atau tempat membaca buku. Taman adalah tempat melihat sebuah opera di sebuah teater. Orang-orang di sana memainkan perannya secara natural dengan gayanya masing-masing.
Seorang wanita sendiran duduk di lingkaran kolam taman, dihisapnya sebatang rokok dengan mata menatap tajam ke awan. Sesekali ia menunduk ke bawah. Entah apa yang dilihatnya, toh di bawah hanya ada aspal dam sebuah daun kering yang bersemayam di atasnya. Mungkin ia sedang tak menggunakan matanya untuk melihat, ia sedang mengurai semua probelama hidup dan meratapinya hingga tertunduk ke bawah. Ah, sok taunya aku.. Mungkin dia sendang mencari sesuatu di bawah. Uang recehan yang terjatuh, dan saat sedang melihat ke atas, ia ingin meilhat cuaca agar saat pulang ia tak kehujanan..
“Biarin, pergi sana!”
Pandanganku langsug tertuju ke arah suara itu, sumber suaranya tak jauh dari wanita yang kulihat sendiri tadi. Ternyata itu suara seorang perempuan yang sedang memaki seorang lelaki di depannya. Lelaki itu kemudian menarik tangan si wanita secara paksa dan tangan kirinya memberi isyarat peringatan dengan telunjuk. Beberapa pasang mata terlihat curi-curi pandang ke arah kedua orang itu itu. Mereka seolah tak peduli, tapi ingin tahu tentang kelanjutan kisah yang penuh emosi itu. Si wanita tadi bersikukuh untuk tetap duduk dan mengindahkan ajakan si lelaki, entah siapa lelaki itu. Mungkin kakaknya yang marah karena adiknya itu tak kunjung pulang ke rumah. Mungkin juga itu suaminya sedang cekcok dengan sang istri hingga sang istri enggan diajak pulang. Atau mungkin dia seorang germo yang mencoba membujuk pelacurnya untuk pulang ke penampungan. Atau malah lelaki itu hanya seorang pria tak dikenal yang mencoba mengajak si wanita berkenalan secara paksa. Ah, apapun itu, kedua orang itu telah melakoni perannya dengan baik. Konfilk mereka turut mengisi ruang kososng di taman.
Bagiku, taman tak sekedar paru-paru kota, tapi sebuah tempat penyegaran hati para penduduknya. Tempat berbagi kasih, tempat mengais rezeki, hingga tempat menyepi. Semua kegiatan itu hanya bermuara pada satu harapan, harapan agar sang hati senang.. Mall dan diskotik memang menyenangkan bagi sebagian orang, tapi tak cukup menenangkan buatku. Bioskop memang menghibur, dan akting para pemeran juga rapih dan bagus. Tapi aku tak bisa menyentuh para pemerannya, aku tak bisa menyentuh pundak wanita yang menangis di layar itu untuk sekedar meringankan kesedihannya.
Di taman, aku bisa melihat berbagai aksi. Walau tak apik dan rapih, tapi cukup menawan dan spontan. Aku pun bisa leluasa ikut terlibat di dalam peran.
Dengan menengguk sebotol air mineral (Karena aku tak minum alcohol dan merokok, air mineral pun kujadikan sasaran), aku pun terbius oleh gerak lincah para pemeran. Melihat berpasang-pasang kekasih yang saling tukar kemesraan, tukang jualan yang berlalu lalang, anak kecil yang berlari riang dengan sepatu berbunyi, hingga alunan ringan dari gesekan biola dan tiupan saxophone yang dimainkan dengan senyum penuh kenikmatan. Dari luar, tak ada yang spesial. Tapi bagiku, semua yang kulihat di taman itu lebih berharga dan mempunyai kesan tersendiri dibanding menonton opra di televisi. Mereka hidup, mereka nyata, dan mereka ada tepat di depanku. Mereka ada di taman itu, mereka berteater di sebuah taman.
